Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin adalah nama asli Abah Anom. Lahir 1
Januari 1915 di Suryalaya, Tasikmalaya. Ia anak kelima dari Syekh
Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, atau Abah Sepuh, pendiri Pesantren
Suryalaya. Sebuah pesantren tasawuf yang khusus mengajarkan Thariqat
Qadiriyyah Naqsabandiyah (TQN).
Ia memasuki bangku sekolah dasar (Vervooleg school) di Ciamis, pada usia
8 tahun. Lima tahun kemudian melanjutkan ke madrasah tsanawiyah di kota
yang sama. Usai tsanawiyah, barulah ia belajar ilmu agama Islam, secara
lebih khusus di berbagai pesantren.
Ia keluar masuk berbagai macam pesantren yang ada di sekitar Jawa Barat
seperti, Pesantren Cicariang dan Pesantren Jambudwipa di Cianjur untuk
ilmu-ilmu alat dan ushuluddin. Sedangkan di Pesantren Cireungas, ia juga
belajar ilmu silat. Minatnya untuk belajar silat diperdalam ke
Pesantren Citengah yang dipimpin oleh Haji Djunaedi yang terkenal ahli
“alat”, jago silat dan ahli hikmat.
Kegemarannya menuntut ilmu, menyebabkan Abah Anom menguasai berbagai
macam ilmu keislaman pada usia relatif muda (18 tahun). Didukung dengan
ketertarikannya pada dunia pesantren, telah mendorong ayahnya yang
dedengkot Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) untuk mengajarinya
dzikir TQN. Sehingga ia menjadi wakil talqin ayahnya pada usia relatif
muda.
Mungkin sejak itulah, ia lebih di kenal dengan sebutan Abah Anom. Ia
resmi menjadi mursyid (pembimbing) TQN di Pesantren tasawuf itu sejak
tahun 1950. Sebuah masa yang rawan dengan berbagai kekerasan bersenjata
antar berbagai kelompok yang ada di masyarakat, terutama antara DI/TII
melawan TNI.
“Tasawuf tidak hanya produk asli Islam, tapi ia telah berhasil
mengembalikan umat Islam kepada keaslian agamanya pada kurun-kurun
tertentu,” tegas Abah Anom, tentang eksistensi tasawuf dalam ajaran
Islam.
Tasawuf yang dipahami Abah Anom, bukanlah kebanyakan tasawuf yang
cenderung mengabaikan syari’ah karena mengutamakan dhauq (rasa).
Menurutnya, sufi dan pengamal tarekat tidak boleh meninggalkan ilmu
syari’ah atau ilmu fiqih. Bahkan, menurutnya lagi, ilmu syari’ah adalah
jalan menuju ma’rifat.
Ia, sebagaimana lazimnya sosok sufi, tak ingin terkenal. “Ia amat sulit
untuk diwawancarai wartawan, karena beliau tak ingin dikenal orang,”
ungkap Ustadz Wahfiudin, mubaligh Jakarta yang menjadi salah seorang
muridnya.
Kendati demikian, ia bukanlah sosok sufi yang lari ke hutan-hutan dan
gunung-gunung, seperti legenda sufi yang sering mampir ke telinga kita.
Yang hidup untuk dirinya sendiri, dan menuding masyarakat sebagai musuh
yang menghalangi dirinya dari Allah swt. Ia akrab dengan berbagai medan
kehidupan, mulai dari pertanian sampai pertempuran.
Pada tahun 50-60-an kondisi perekonomian rakyat amat mengkhawatirkan.
Abah Anom turun sebagai pelopor pemberdayaan ekonomi umat. Ia aktif
membangun irigasi untuk mengatur pertanian, juga pembangunan kincir
angin untuk pembangkit tenaga listrik.
Bahkan Abah Anom membuat semacam program swasembada beras di kalangan
masyarakat Jawa Barat untuk mengantisipasi krisis pangan. Aktivitas ini
telah memaksa Menteri Kesejahteraan Rakyat Suprayogi dan Jendral A. H.
Nasution untuk berkunjung dan meninjau aktifitas itu di Pesantren
Suryalaya.
Medan pertempuran bukanlah wilayah asing bagi Abah Anom. Pada masa-masa
perang kemerdekaan, bersama Brig. Jend. Akil bahu-membahu memulihkan
keamanan dan ketertiban di wilayahnya. Ketika pemberontakan PKI meletus
(1965), ia bersama para santrinya melakukan perlawanan bersenjata.
Bahkan tidak hanya sampai di situ, Abah Anom membuat program
“rehabilitasi ruhani” bagi para mantan PKI. Tak heran, jika Abah
mendapat berbagai penghargaan dari Jawatan Rohani Islam Kodam VI
Siliwangi, Gubernur Jawa Barat dan instansi lainnya.
Medan pendidikan juga tak luput dari ruang aktivitasnya. Mulai dari
pendirian Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah ‘Aliyah pada tahun 1977,
sampai pendirian Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah pada tahun
1986.
Kiprahnya yang utuh di berbagai bidang kehidupan manusia, ternyata
berawal dari pemahamannya tentang makna zuhud. Jika kebanyakan kaum sufi
berpendapat zuhud adalah meninggalkan dunia, yang berdampak pada
kemunduran umat Islam. Maka menurut pendapat Abah Anom,
“Zuhud adalah qasr al-’amal artinya, pendek angan-angan, tidak banyak
mengkhayal dan bersikap realistis. Jadi zuhud bukan berarti makan ala
kadarnya dan berpakaian compang camping.”
Abah merujuk pada surat An-Nur ayat 37 yaitu, “Laki-laki yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari
mengingat Allah dan dari mendirikan shalat, (dari) membayarkan zakat.
Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati menjadi guncang.”
Jadi, menurut beliau seorang yang zuhud adalah orang yang mampu
mengendalikan harta kekayaannya untuk menjadi pelayannya, sedangkan ia
sendiri dapat berkhidmat kepada Allah swt semata. Atau seperti dikatakan
Syekh Abdul Qadir Jailani,
“Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan kalbumu bersama kehidupan akhirat, dan rasamu bersama Rabbmu.”
Inabah
Mengentaskan manusia dari limbah kenistaan bukanlah perkara mudah. Abah
Anom memiliki landasan teoritis yang kuat untuk merumuskan metode
penyembuhan ruhani, semuanya ada dalam nama pesantren itu sendiri yaitu,
Inabah.
Abah Anom menjadikan Inabah tidak hanya sekedar nama bagi pesantrennya,
tapi lebih dari itu, ia adalah landasan teoritis untuk membebaskan
pasien dari gangguan kejiwaan karena ketergantungan terhadap obat-obat
terlarang. Dalam kacamata tasawuf, ia adalah nama sebuah peringkat
ruhani (maqam), yang harus dilalui seorang sufi dalam perjalanan ruhani
menuju Allah swt.
“..Salah satu hasil dari muraqabatullah adalah al-inabah yang maknanya
kembali dari maksiat menuju kepada ketaatan kepada Allah swt karena
merasa malu ‘melihat’ Allah,” jelas Abah yang merujuk pada kitab Taharat
Al-Qulub.
Dalam teori inabah, untuk menancapkan iman dalam qalbu, tak ada cara
lain kecuali dengan dzikir laa ilaha ilallah, cara ini di kalangan TQN
disebut talqin. Demikian juga dalam mesikapi mereka yang dirawat di
pesantren Inabah. Mereka harus diberikan ‘pedang’ untuk menghalau
musuh-musuh di dalam hati mereka, pedang itu adalah dzikrullah.
Orang-orang yang dirawat di Inabah diperlakukan seperti orang yang
terkena penyakit hati, yang terjebak dalam kesulitan, kebingungan dan
kesedihan. Mereka telah dilalaikan dan disesatkan setan sehingga tak
mampu lagi berdzikir pada-Nya. Ibarat orang yang tak memiliki senjata
lagi menghadapi musuh-musuhnya. Walhasil, obat untuk mereka adalah
dzikir.
Shalat adalah salah satu bentuk dzikir. Menurut pandangan Abah Anom,
para pasien itu belum dapat shalat karena masih dalam keadaan mabuk
(sukara), karena itu langkah awalnya adalah menyadarkan mereka dari
keadaan mabuk dengan mandi junub. Apalagi sifat pemabuk adalah ghadab
(pemarah), yang merupakan perbuatan syaithan yang terbuat dari api.
Obatnya tiada lain kecuali air.
Jadi, selain dzikir dan shalat, untuk menyembuhkan para pasien itu
digunakan metode wudlu dan mandi junub. Perpaduan kedua metode itu
sampai kini tetap digunakan Abah Anom untuk mengobati para pasiennya
dari yang paling ringan sampai yang paling berat, dan cukup berhasil.
Buktinya, cabang Inabah tak hanya di Indonesia, di Singapura langsung
berdiri sebuah cabang serta Malaysia dua buah cabang. Belum lagi
tamu-tamu yang mengalir dari berbagai benua seperti Afrika, Eropa dan
Amerika.
Karomah beliau
tersebutlah seorang kiayi bernama KH.Tohir yang sedang menimba ilmu di
salah satu pesantren di kotanya. Konon Sang Guru yang mengajarkan ilmu
di pesantrennya tersebut melarang Kiayi Tohir untuk tidak menemui
seorang kiayi besar yang tinggal di Suryalaya bernama Abah Anom, apalagi
berguru kepadanya. Namun, setelah melalui penelusuran dan pembelajaran
ilmu tassawuf yang diajarkan di Pesantren Suryalaya, akhirnya kiayi
Tohir meminta kepada Abah Anom untuk dibaiayat atau ditalqin dzikir (di
ajarkan dzikir Thoriqoh). Namun, tentu saja dalam benak kiayi Tohir
kunjungannya ke Abah Anom yang tanpa sepengatahuan gurunya itu akan
membuat murka di pesantren dikotanya. Apalagi, setelah di talqin dzikir
(pengajaran dzikir thoriqat) ada suatu amanat dari Abah Anom yakni
ucapan salam yang harus disampaikan kepada guru dipesantrennya. Ketika
kiayi Tohir sedang duduk menunggu sholat berjamaah di Mesjid Nurur Asror
di Kompleks Pesantren Suryalaya sebelum ia kembali bertolak ke kampung
halamannya, pikirannya terus berkecamuk tidak bisa tenang. Ketika dalam
benaknya terbersit bagaimana wajah murka gurunya yang sedang memarahinya
habis-habisan karena ketidak taatannya, tiba-tiba ada yang menepuk
pundaknya dengan sorban dan berkata: “Tong sok goreng sangka kabatur,
komo ka guru soranganmah, boa teuing teu kitu! dalam bahasa Indonesia :
“jangan selalu berburuk sangka terhadap orang lain, apalagi terhadap
guru sendiri, belum tentu seperti itu “. Kiyai Thohir begitu kaget
ternyata yang menepuk pundak dan membaca pikirannya itu adalah guru
ruhaninya yang baru, yaitu Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin ra
(Abah Anom). Dari kejadian itu Kiai Thohir mendapatkan pelajaran yang
berharga bahwa seorang guru ruhani Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan
Naqsyabandiyyah bisa mengetahui hati murid-muridnya dimanapun mereka
berada. Mursyid akan terus mengawasi dan membimbing hati murid-muridnya
agar hati selalu menuju Allah
Sepulang dari Pesantren Suryalaya dan kembali ke Pesantren dikampungnya,
Kiai Thohir menyampaikan amanat salam dari Mursyid Kammil Mukammil
Syekh ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin ra kepada gurunya. Dan ternyata,
diluar dugaan Kiayinya yang dipesantren itu malah memuji Abah Anom
bahkan Kiayi Thohir sebagai salah satu murid kesayangannya itu
dianjurkan untuk menjalankan ajaran yang di bawa oleh Abah Anom sebagai
pewaris para Nabi.
Selanjutnya, Kiayi Thohir mengabdikan diri sepenuhnya kepada Abah Anom
dan mengamalkan ajaran yang telah diajarkannya. Akhirnya Kiai Thohir
dipercaya menjadi salah satu wakil Talqin, yaitu orang yang di izinkan
untuk mengajarkan atau mengijazahkan dzikir Thoriqoh kepada orang yang
membutuhkannya.
Cerita ini diambil dari ceramahnya KH.M.Abdul Gaous Saefulloh Al-Maslul
atau Ajengan Gaos salah satu wakil Talqin Thoriqoh Qodiriyyah
Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat
Indonesia.
Diceritakan ada seorang pemuda yang hobinya melacur, pemuda tersebut
berniat untuk berhenti dari pebuatannya yang tercela. Sudah berbagai
cara dilakukan untuk menghentikannya itu tidak membuat minat lacurnya
berhenti. Padahal, pelaksanaan amalan ibadah yang “super ketat” atas
petunjuk dari para kiai yang pernah dikunjungi dari berbagai daerahpun
belum berhasil. Jadi, Sudah tidak asing lagi baginya riyadloh (latihan)
seperti puasa, dzikir, sholat baik yang sifatnya wajib maupun sunat dan
amalan lainnya.
Dalam keadaan kondisi jiwa yang begitu kritis, datanglah pemuda itu ke
Pondok Pesantren Suryalaya untuk menemui seorang Waliullah yaitu Abah
Anom dan menceritakan maksud kedatangannya. Abah Anom berkata : “Tidak
apa-apa, asal jangan dilakukan didepan Abah”. Setelah itu pemuda yang
hobi “jajan” perempuan ditalqin dzikir TQN untuk diamalkan.
Seperti biasa pemuda tersebut datang ke hotel yang telah dipesan untuk
melaksanakan hasrat nafsunya “meniduri” wanita pelacur. Setelah
siap-siap semuanya, terbesit dalam jiwanya akan bayangan wajah Abah Anom
“Asal jangan dihadapan Abah!”, pemuda itu terkejut dan gelisah, dengan
segera meninggalkan hotel. Gagallah keinginan nafsunya.
Dihari yang lain, pemuda itu datang lagi ke hotel untuk melaksanakan
hasrat nafsunya yang tidak terbendung. Namun, disaat detik-detik akan
melaksanakan maksiatnya muncul wajah Abah Anom “Tidak apa-apa, asal
jangan dihadapan Abah”. Pemuda itu kembali mengurungkan niatnya dan
kembali pulang.
Kejadian itu terus terulang selalu melihat bayangan wajah Abah Anom
disaat-saat akan melakukan maksiat dengan pelacur. Akhirnya, dengan
kejadian itu pemuda tersebut menghentikan dari hobinya melacur untuk
selamanya dan menjadi pengamal Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah.
Sesungguhnya kejadian itu suatu anugrah dari Allah untuk hamba yang
dicintai dengan perantara Mursyid sebagai pilihan-Nya. Subhanallah..
Bayangan wajah Mursyid itu adalah sebagai burhana robbihi (cahaya /
tanda dari Allah) yang membawa berkah terhadap pemuda tersebut.
Kita teringat akan kisah salah satu utusan Allah yaitu Nabi Yusuf as.
yang ditolong Allah ketika akan terjadi maksiat dengan Siti Zulaikha.
Dalam al-Qur’an Surat Yusuf ayat 24: “Sesungguhnya wanita itu telah
bemaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf-pun bermaksud
(melakukan pula) dengan wanita itu (Zulaikha) andaikata tidak melihat
burhana robbihi yaitu tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami
memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu
termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS: Yusuf 24)
Dalam ayat ini terdapat perkataan Allah “Burhana Rabbihi”. Menurut
perkataan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, juz II / 474 :
“Adapun maksud “Burhaana Rabbihi” yang terlihat oleh Yusuf, maka
terdapat beberapa pendapat. Menurut sahabat Abdullah bin Abbas, Said,
Mujahid, Sa’id bin Jubair, Muhamad bin Sirin, Hasan, Qatadah, Ibnu
Sholeh, Dlohah, Muhammad bin Ishaq dan lain-lain yakni Yusuf melihat
bayangan ayahnya (Ya’kub), rupanya, bentuknya seakan-akan ayahnya
marah-marah. Menurut sebagian riwayat memukul dada Yusuf. Al-‘Aufi
berpendapat dari Ibnu Abbas, maksud perkataan itu ialah Yusuf teringat
kepada bayangan wajah suami Zulaikha yaitu raja Qithfir yang seolah-olah
ada dirumah dan mengetahui apa yang akan diperbuat Yusuf. Demikian juga
Muhammad bin Ishaq berpendapat yang sama.” (Tafsir Ibnu Katsir, II /
474) Subhanallah…
Cerita ini diambil dari ceramahnya KH.M.Abdul Gaous Saefulloh Al-Maslul
atau Ajengan Gaos salah satu wakil Talqin Thoriqoh Qodiriyyah
Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat
Indonesia.
KH. Maksum memiliki seorang istri yang sedang mengandung. Menurut fonis
dokter, istri kiayi tersebut bukanlah kehamilan normal yang biasanya
terjadi pada seorang wanita. Namun istri KH.Maksum di vonis menderita
kangker dan harus segera dioperasi.
Sang Kiayi akhirnya datang ke Suryalaya ingin bertemu Pangersa Abah Anom
untuk meminta doa beliau agar istrinya diberi kelancaran saat
operasinya nanti. Ketika kiayi Maksum mengutarakan maksudnya tersebut,
Abah hanya berkata: “Heug, sing jadi jelema”, dalam bahasa Indonesia:
iya, jadi manusia, maksudnya adalah semoga kandungan istri kiayi Maksum
menjadi manusia dengan izin Allah.
Dan ternyata, baru saja istri kiayi Maksum satu langkah keluar dari
rumah Pangersa Abah, dia merasakan gerakan-gerakan dalam rahimnya itu,
subhanallah. Kontan saja istri kiayi Maksum kaget, dan langsung
memeriksakan dirinya ke Dokter. Lalu apa kata Dokter? Subhanallah,
Dokter pun sama terkejutnya dengan pasangan suami istri Kiayi Maksum
tersebut.
Allahu Akbar, kun fayakun, dengan izin-Nya melalui doa Kekasih-Nya,
daging jadi yang asalnya akan diangkat tersebut, ternyata berubah
menjadi sesosok manusia kecil yang menggemaskan berjenis kelamin
laki-laki. Ya, ternyata setelah dioperasi daging jadi itu berubah
menjadi seorang bayi, yang diberi nama Sufi Firdaus.
Idos panggilan anak ini, hingga saat ini masih hidup dan mengabdikan
dirinya untuk menjadi murid Syeikh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin qs.
(Abah Anom).
Diceritakan Bapak Etje Juardi, ada Ulama yang dikenal sakti namanya Kyai Jured.
Suatu hari Kiai tersebut memiliki rencana untuk menguji karomah Abah Anom dengan kesaktian yang dimilikinya.
Kiai tersebut datang ke Pondok Pesantren Suryalaya dengan satu bis yang
membawa 70 santrinya. Semua santri disebar disekitar Pesantren
Suryalaya, setelah Kiai itu masuk ke halaman Abah Anom, tidak disangka
Abah Anom sudah berada didepan madrasah dan menyuruh Kiai untuk masuk ke
madrasah Abah Anom bersama 70 santrinya yang telah disebar. Kiai
tersebut merasa kaget akan kasyaf (penglihatan batin)nya Mursyid TQN.
Abah Anom meminta Kiai tersebut dan para santrinya untuk makan dahulu
yang telah Beliau sediakan di madrasah.
Di dalam madrasah Kiai memuji Abah Anom tentang pesantren Beliau yang
sangat luas nan indah, tetapi dibumbui kritik secara halus tentang
kekurangan pesantrenya yaitu tidak adanya burung cendrawasih, burung
yang terkenal akan bulunya yang indah. Beliau hanya tersenyum dan
menimpalinya dengan jawaban yang singkat : “Tentu saja Kiai”. Suatu di
luar jangkauan akal setelah jawaban itu burung cendrawasih yang berbulu
indah melayang-layang di dalam madrasah yang sesekali hinggap. Kejadian
itu membuat terpesonanya akan karomah yang dimiliki Beliau, Kiai itu
diam seribu bahasa.
Keajaiban lagi, ketika makan dengan para santrinya yang 70 pun nasi yang di sediakan dalam bakul kecil itu tidak pernah habis.
Namun, Kiai ini masih penasaran dan tidak mau kalah begitu saja, setelah
makan Kiai tersebut meminta kepada Beliau untuk mengangkat kopeah/peci
yang telah “diisi“, yang sebelumnya dicoba oleh para santrinya tidak
terangkat sedikitpun. Subhanallah .. hanya dengan tepukan tangan Abah
Anom ke lantai kopeah itu melayang-layang.
Selanjutnya Kiai tersebut mengeluarkan batu yang telah disediakan
sebelumnya, dan batu itu dipukul dengan “kekuatan” tangannya sendiri
sehingga terbelah menjadi dua, sedangkan belahannya diberikan kepada
Abah Anom. Kiai itu meminta kepada Abah Anom untuk memukulnya
sebagaimana yang telah dicontohkannya.
Abah Anom mengatakan kepada kiai itu : “Abah tidak bisa apa-apa,
baiklah” selanjutnya batu itu diusap oleh tangan Abah dan batu itu
menjadi air ,subhanallah…
Kiai menguji lagi karomah Abah Anom dengan kelapa yang telah dibawa
santri dari daerahnya. Kiai tersebut meminta yang aneh-aneh kepada Abah
Anom agar isi dalam kelapa tersebut ada ikan yang memiliki sifat dan
bentuk tertentu.
Dengan tawadlunya Abah Anom menjawab: “Masya Allah, kenapa permintaan kiai ke Abah berlebihan?, Abah tidak bisa apa-apa .
Selanjutnya Abah Anom berkata : “ Baiklah kalau begitu, kita memohon
kepada Allah. Mudah-mudahan Allah mengabulkan kita”. Setelah berdoa
Beliau menyuruh kelapa itu untuk dibelah dua, dan dengan izin Allah
didalam kelapa itu ada ikan yang sesuai dengan permintaan sang kiai.
Subhanalllah…
Selanjutnya, entah darimana datangnya di tangan Abah Anom sudah ada
ketepel, dan ketepel itu diarahkan atau ditembakan kelangit-langit
madrasah, sungguh diluar jangkauan akal, muncul dari langit-langit
burung putih yang jatuh dihadapan Kiai dan Beliau
Setelah kejadian itu, Kiai menangis dipangkuan Abah Anom Akhirnya Kiai memohon kepada Abah Anom untuk diangkat menjadi muridnya.
Kiai itu ditalqin dzikir TQN Setelah ditalqin Kiai menangis dipangkuan
Abah Anom sampai tertidur. Anehnya, Bangun dari tidur sudah berada
dimesjid. Subhanallah….
Abdul telah tiada. Bunga di atas kuburan Abdul yang terletak di area
kuburan blok Nyongklang Selajambe Kab. Kuningan tampak masih segar
sekalipun sudah tiga hari terpanggang panas terik matahari. Begitu pula
gundukan tanah merah tampak terlihat masih basah padahal kuburan
sekelilingnya sudah kering bahkan terlihat retak-retak akibat kemarau
berkepanjangan.
Sepintas, tak ada yang istimewa pada kuburan tersebut. Sama saja seperti
kuburan yang lainnya. Namun sesuatu yang beda akan terasa disana. Wangi
bunga akan tercium manakala orang melewati kuburan tersebut. Emangnya,
siapa sich, yang “tertidur” di dalam sana? Inilah kisahnya….
Adalah Abdul, seorang laki-laki yang 3/4 usianya dihabiskan dalam lembah
kemaksiatan. Di kota Metropolitan, Abdul menjelma menjadi bajingan yang
Super Haram Jadah. Ia adalah jagoan yang tak pernah kenal rasa takut.
Bagi sesama penjahat, Abdul adalah momok yang menakutkan. Bagi polisi
lelaki yang sekujur tubuhnya dipenuhi tato wanita telanjang itu
merupakan sosok penjahat yang super licin yang sulit ditangkap karena
kepandaiannya menggunakan jampi-jampi sehingga mampu berkelit dari
kejaran aparat. Kapanpun dan dimanapun, perbuatan maksiat tak pernah ia
lewatkan.
Hingga suatu malam di bulan November 2005….. Niat jahatnya muncul
kembali ketika melihat seorang penumpang wanita sendirian di mobil
omprengan daerah Plumpang, Jakarta Utara. Bersama dua orang temannya,
ditodongkannya pisau ke arah sopir dan kernet yang tidak berdaya
menghadapi ancaman tersebut. Keduanya lalu diikat lalu Abdul CS. membawa
kendaraan tersebut ke salah satu tempat di Bogor yang sudah mereka
persiapkan sebelumnnya.
Sesampainya di tempat, Abdul CS. bermaksud untuk memperkosa wanita
cantik tersebut. Dengan cara paksaan, wanita itu -sebut saja Sinta-
diminta untuk melayani nafsu binatangnya. Namun Sinta berupaya sekuat
tenaga untuk melepaskan diri dari bahaya sambil berteriak : “Abah, Abah,
Abah, tolong saya!”. Subhanalloh, atas kehendak-Nya, disaat Abdul akan
melampiaskan nafsu kebinatangannya, tiba-tiba saja “burung” miliknya
mendadak terkulai lemas dan ia merasakan kesakitan yang luar biasa.
Begitu juga kedua temannya yang akan memperkosa Sinta mengalami hal
serupa. Dalam keadaan seperti itu, Sinta langsung melarikan diri………..
Setelah kejadian tersebut, Abdul CS mengalami nasib naas. Kemaluannya
membengkak dan tiga bulan kemudian, dua orang temannya mati mengenaskan
akibat “burung”nya MEMBESAR. Untunglah, Abdul cepat sadar. Ia tahu,
bahwa peristiwa tersebut merupakan hukuman dari Allah atas dosa-dosa
mereka yang telah diperbuat. Lalu, ia menemuia salah seorang temannya
yang sudah terlebih dahulu insyaf dan bertaubat.
Setelah diutarakan maksud dan kedatangannya, teman Abdul tersebut
membawanya ke salah satu Majlis Dzikir dan kemudian bertaubat. Melalui
Kiayi yang menuntunnya, iapun tahu bahwa taubat tidak berarti harus
menghilangkan seluruh tato yang ada ditubuhnya. Dengan semangat yang
kuat dan tekad yang membaja, Abdulpun mendapatkan Talqin Dzikir dan
mengamalkan semua amaliahnya seperti Khotaman meskipun dia hafalkan dari
latinnya.
Teman-teman seprofesi dulu di Jakarta banyak yang ia temui sehingga dia
memutuskan untuk hijrah dari Jakarta ke kampung halamannya, takut jika
niat jahatnya kembali muncul. Di kampung halamannya, masyarakat tidak
begitu saja bisa langsung menerimanya, malah menaruh rasa curiga bahkan
tak jarang kata-kata pedas sering dilontarkan kepadanya. Berbekal TANBIH
dan dzikrullah, ia tetap tersenyum dan berbaik budi. Sehingga akhirnya
masyarakatpun dapat menerima, bahwa Abdul telah kembali ke jalan yang
lurus.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia menjadi buruh tani dan pekerjaan
serabutan lainnya hanya untuk sesuap nasi sehingga tetap bisa
melaksanakan amaliah dzikrullah seperti yang pernah didapatkannya di
Jakarta. Hingga akhirnya, pada hari Jum’at di tahun 2006 selepas Subuh,
ia dipanggil kembali oleh Allah dalam posisi Tawajuh.
